Minggu, 19 Oktober 2014

Bermacam Karya Seni Kain Nusantara



Kebanyakan orang mengetahui batik serta kain tenun juga sebagai kain tradisional dengan bahan asli Indonesia. Padahal Ladies, Indonesia mempunyai seni kain (seni wastra) yg lebih kaya. Bahkan juga, nyaris di tiap-tiap daerah mempunyai kain dengan corak, motif, material tekstil serta sistem pewarnaanya sendiri.

Ciri khas yg ada di tiap-tiap kain dari beragam daerah itu membawa nilai filosofi yg tinggi dalam tiap-tiap helainya. Nah, yuk simak beragam jenis type kain warisan Nusantara di bawah ini.

Kain songket datang dari daerah Sumatera serta telah kerap jadi cinderamata untuk beberapa turis asing. Pusat kerajinan songket yg populer yaitu dari kota Palembang serta karya songket yg paling populer datang dari Sumatera Barat lantaran di buat dengan memanfaatkan benang emas. Konon kain ini kerapkali dihubungkan dengan waktu kegemilangan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera.

Lantaran pembuatannya yg rumit, kain songket mempunyai nilai jual yg sangatlah tinggi. Kain songket di buat lewat cara ditenun dengan memanfaatkan benang helai untuk helai sampai jadi satu lembar kain utuh yg cantik. Kain songket ditenun dengan memanfaatkan tehnik menaikkan benang pakan juga sebagai hiasan, yakni dengan menyisipkan benang perak, emas, tembaga atau benang warna diatas benang lungsi.

Ada saatnya kain songket mempunyai corak penuh dengan bermacam hiasan atau bagian-bagian kain saja yg kadang-kadang dikombinasikan dengan tehnik ikat. Motif kain songket kebanyakan berupa geometris flora serta fauna. Sebagian motif bunga seperti melati, mawar, serta tanjung melambangkan kesucian, keanggunan serta semua kebaikan. Kain Songket termasuk juga kain elegan yg umum dimanfaatkan oleh beberapa bangsawan selagi perayaan atau pesta.

Desa Sikka, Lio serta Ende di Flores, Nusa Tenggara Timur adalah daerah sentra spesial pembuatan kain tenun ikat khas Flores. Nyaris seluruhnya sistem pembuatannya dilaksanakan dengan cara tradisional serta tanpa ada mesin. Mulai dari pemrosesan biji kapas, pemintalan, pewarnaan sampai jadi sehelai kain ikat.

Pewarnaan kain masih tetap memanfaatkan beberapa bahan alami yg datang dari beragam type tanaman. Dari tanaman-tanaman ini terwujud 11 warna yg konon makin lama umur kain, warnanya bakal semakin terlihat lebih indah.

Tiap-tiap daerah di Flores mempunyai motif serta corak kain tenun yg tidak sama sesuai sama etnis, rutinitas, budaya serta religi daerah setempat. Kain tenun Sikka condong berwarna gelap seperti hitam, cokelat serta biru dengan motif khas okukirei (cerita nenek moyang Sikka yg pelaut) , serta motif mawarani (corak bunga mawar yg dahulu spesial untuk putri-putri kerajaan Sikka) . Kain tenun Ende semakin banyak warna cokelat serta merah dengan ciri khas memanfaatkan satu type motif di dalam kain. Disamping itu kain tenun Lio mempunyai motif langka omembulu telu (tiga emas) yg dipercaya sanggup buat pemiliknya jadi kaya raya.

Kain tenun ikat Bali

Bali yg eksotis bukan sekedar populer juga sebagai maksud wisata tingkat dunia, namun juga kaya warisan karya seni, diantaranya yaitu seni wastra : tenun ikat. Pada awalannya kain tenun ini cuma dimanfaatkan oleh beberapa orang-tua serta kelompok bangsawan saja, namun saat ini nyaris seluruhnya susunan warga Bali mengenakannya baik untuk baju keseharian ataupun upacara besar keagamaan.

Terdapat banyak type kain tenun ikat Bali yg telah sangatlah populer, yaitu Tenun Gringsing, Kain Songket serta Endek Bali. Pembuatan kain Endek cukup unik, di antara prosesnya dimaksud dengan nyantri, yakni menggoreskan warna dengan kuas bambu pada bagian-bagian macam hias khusus. Unikya, pembuatan kain Endek Bali masih tetap memanfaatkan ritual spesial.

Selanjutnya yaitu Kain Tenun Gringsing yg di buat dengan memanfaatkan tehnik tenun ikat ganda serta membutuhkan saat 2-5 th. untuk sistem pembuatannya. Kain tenun ini mempunyai macam spesial serta mempunyai motif serta warna sesuai sama fungsinya dalam ritual spesial seperti potong gigi, pernikahan, serta upacara keagamaan lain. Disamping itu, kain songket Bali dimanfaatkan oleh pengantin kelompok bangsawan dengan motif muncul serta detil.

Kain Sulam Karawo

Kain sulam Karawo datang dari Gorontalo. Sistem pembuatannya dihasilkan lewat sulam tangan serta dilaksanakan dengan cara personal. Kain juga sebagai media sulaman bakal diiris atau dilubangi lewat cara mencabut serat benang sesuai sama pola motif sulaman. Sistem pelaksanaan kain ini dapat konsumsi saat sampai 1 bln. bergantung pada kerumitan motif kain.

Beragam motif serta rancangan yg bernilai seni tinggi jadikan Sulam Karawo product budaya bernilai serta komoditas unggulan khas Gorontalo. Selain untuk baju, kain khas Gorontalo ini dapat pula diketemukan pada sapu tangan, kipas, peci, taplak meja, serta bermacam aksesories yang lain

1 komentar: